Posted in Islam

Ada apa dengan “SYAM”?

Negeri Syam, disebut sebagai tempat terbaik di akhir zaman di mana nantinya nabi Isa AS turun.  Syam menjadi tempat yang mulia karena seperti dikatakan oleh Rasulullah SAW bahwa setiap malam malaikat Ar-Rahman mengepakkan sayapnya hingga ke kota Syam.  Selain itu Allah SWT juga telah menjaminkan keimanan dan ketaqwaan penduduk Syam, sehingga tidak heran jika meskipun mereka menjadi korban kekejaman rezim Al Assad yang membunuh ribuan sunni di sana, tapi tak menyurutkan ketaqwaan mereka kepada Allah SWT.

Berdasarkan pengalaman Ustad Oemar Mita yang pernah menjadi penerjemah dalam misi kemanusiaan di kota Syam, beliau mendapati pribadi-pribadi yang luar biasa.  Diceritakan bahwa anak-anak kecil ketika diberi hadiah kecil berupa permen, mengucapkan terimakasih dan rasa syukurnya berulang-ulang dan mereka selalu mengatakan,” Semoga Allah senantiasa menjagamu.”  Kata-kata itu diucapkan oleh bocah-bocah yang masih berumur 5 atau 6 tahun.  Masya Allah!

Lalu, apa pengalaman mengesankan lainnya di kota Syam?  Silahkan ditonton video nya ya.

 

Posted in Life Stories

Jangkardevon Devonshire

Pengalaman pertama kali mengajar sungguh tak terlupakan kan?  Apalagi, 2013 lalu, saya bertemu dengan anak-anak ababil (abege labil) yang bikin panas dingin sewaktu masuk kelas.  Eitss, tapi itu tidak berlangsung lama.  Sikap mereka yang ramah, friendly and proactive membuat saya jadi bisa rileks.

Yes, they are Devonshire.  Ini julukan untuk angkatan Kharisma Bangsa 2013 yang lulus Mei 2016 lalu.  Hampir semua murid angkatan itu pernah menjadi anak didik saya.  Jadi, more or less, I know most of them.  Mulai dari yang jahil-jahil, suka ngebantah, males-malesan, doyan curhat, pinter nya kebangetan, religius, pendiam, kocak, semuanya lengkap ada di situ.

Time flies.

Kini, mereka bukan ababil lagi.  Tentunya sudah bertransformasi jadi mahasiswa mahasiswi yang super kece, apalagi banyak banget yang masuk PTN ternama.  Ah, senang sekali rasanya melihat mereka mampu menapaki babak baru dalam hidup ini.

 

It’s a memorable experience, knowing that they are spreading their wings as high as they can.

Be good learners, dear my students!

It’s wild outhere, protect yourself with weapons “Iman and Taqwa”.  May Allah always guide you to the right path.

jangkardevon
Picture taken from @jangkardevon

 

Posted in Life Stories

Berkah RAmadhaN : BRAN

Kehadiran buah hati bagi dua pasang insan manusia memang menjadi momentum yang sangat berharga.  Tentu, ini bisa terjadi lantaran kuasa Allah semata.  Jika ditelusuri lebih jauh, bagaimana mungkin hanya dari sel telur dan sperma akhirya berbuah menjadi janin bernyawa?  Itulah Allah.  Tak ada yang tak mungkin baginya.  Sehebat-hebatnya scientist, tak pernah ada satupun yang mampu menciptakan bayi kan?

Alhamdulilah, saya dan suami diberikan anugerah mendapat momongan yang begitu cepat.  Di luaran sana, masih banyak yang berikhtiar untuk bisa mendapatkan jabang bayi.  Tak sedikit pula yang tanpa tega membuang bayinya sendiri lantaran beragam alasan.  Memang ya, hidup ini adalah serangkaian ujian.  Punya anak adalah ujian, belum punya anak pun juga ujian.

Tepat 13 Juni 2016, bulan Ramadhan 1437 hijriyah, Baby Bran menghirup nafas pertama kali nya di dunia.  Berbobot 3.5 kg dan panjang 51 cm, lewat proses normal (tentu dijahit) di RSIA Murni Asih Tangerang, Baby Bran hadir sebagai berkah kemenangan di bulan ramadhan.   Terimakasih Allah atas Berkah Ramadhan 1437 Hijriyah.  Semoga kami mampu menjaga amanah.  Semoga kami mampu mendidik sesuai ajaran Al Quran and Sunnah.

Posted in Life Stories

Journey to Maternity Part 2

Lega rasanya, saat pintu klinik Asa Medika sudah terbuka sedikit, pertanda klinik tidak kosong.  Suami segera mengetuk pintu, mengucap salam serta menekan bel.  Agak lama memang responnya.  Untung, perempuan berkerudung yang akhirnya saya ketahui sebagai bidan segera membukakan pintu.  Suami segera mengutarakan maksud untuk cek keadaan saya terutama untuk mengetahui apakah sudah saatnya melahirkan atau belum.

Bu Bidan Nampak sedikit kaget dan akhirnya dia menceritakan kalau klinik sedang tidak membuka praktik persalinan untuk kurun beberapa waktu.  Hal ini dikarenakan klinik sedang memperpanjang masa ijin dari Dinas Kesehatan.  Suami menyesalkan kenapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya karena kami sudah terlanjur nyaman dan jauh jauh dari Pondok Aren datang untuk bersalin di sini.  Si Ibu Bidan mulai sibuk menghubungi bidan lainnya, yang ternyata tidak mendapat respon karena mereka sedang pulang kampong.

Sembari menunggu, bu Bidan mengecek pembukaan di rahim saya.  Agak kaget juga, karena saya baru tahu kalau jari bu bidan masuk ke miss V.  Beberapa detik dicek, dinyatakanlah kalau pembukaan saya sudah pembukaan 4.  Sekali lagi, bu Bidan memastikan kalau dia tidak bisa membantu proses persaliann saya karena selain ijin belum turun, tidak ada bidan lainnya yang membantu.  It’s impossible to do by herself only.

Dengan kondisi rasa mulas yang makin sering terjadi, sangat tidak kuat bagi saya untuk kembali ke Pondok Aren dan menuju puskesmas atau klinik Sintya dekat kontrakan.  Akhirnya, bu Bidan menyarankan untuk ke Rumah Sakit Ibu dan Anak Murni Asih.  Tanpa pikir panjang, kami segera ke sana dan saya selalu minta suami untuk pelan-pelan karena kontraksi di perut semakin nyeri rasanya.

Berselang 15 menit, sampaikan di RSIA Murni Asih.  Saya segera masuk IGD untuk dicek tensi dan alhamdulilah tensi dalam keadaan normal.  Setelah itu saya segera dibawa ke ruang tindakan persalinan.  Saya masih sendiri kala itu karena suami sedang mengurus pendaftaran dan BPJS.  Tidak berapa lama kemudian, suami menyusul saya ke ruang tindakan.  Di situlah, kontraksi saya semakin menjadi.  Bu Bidan meminta saya untuk berbaring, untuk mengecek jumlah pembukaan.  Ternyata, hanya kurang dari satu jam sejak dari Klinik Asa Medika, pembukaan sudah menjadi pembukaan 6.

Kontraksi semakin menjadi.  Bayi serasa sudah memaksa keluar dari rahim.  Rasanya pengen menjerit dan menangis, namun saya tahan.  Saya coba kuatkan hati dengan memegang erat dan memeluk suami ketika kontraksi sedang berada di puncaknya.  Sungguh, keberadaan suami di samping saya saat melahirkan cukup menguatkan dan memberi semangat saya untuk bertahan serta berjuang demi melahirkan si jabang bayi dengan lancar.

Posted in Life Stories

Journey to Maternity Part 1

Ramadhan kali ini, saya hanya sholat tarawih munfarid di rumah.  Berhubung ini kali pertama weekend dan suami tidak ada kegiatan, akhirnya kami memutuskan untuk sholat di Masjid Imanudin.  Akhirnya, saya menginjakkan kaki di masjid untuk mengikuti rangkaian sholat berjamaah.

Setelah sholat, saya dan suami melanjutkan perjalanan ke Anggrek Loka, Bumi Serpong Damai, untuk makan malam di Dapur Cowek, tempat makan milik Mbak Yessi, teman suami.  Selama perjalanan, saya mulai merasa perut tidak enak, serasa pengen buang air besar.  Tetapi saya abaikan saja karena saya membayangkan betapa enaknya ayam bakar di Dapur Cowek.

Benar saja, sampai di Dapur Cowek, saya lahap makan ayam bakar.  Eh setelah makan ayam bakar, kok perut mulai mules, ini pasti efek dari sambal pedas si ayam bakar.  Dalam perjalanan pulang, saya menahan perih dan buru-buru ingin ke kamar mandi.  Nongkrong di kamar mandi, tetapi tetap saja tidak keluar.  Akhirnya saya putuskan untuk tidur, tetapi nyatanya saya tidak bisa tidur dan selalu terbangun karena perut mulas tidak juga berakhir.

Puncaknya, kira kira pukul 01.00 malam, rasa mulas makin terasa.  Saya sudah mati gaya mencari posisi, mulai dari tidur, duduk, selonjoran dan menempel di tembok.  Akhirnya, setelah sholat tahajud menjelang sahur, suami memutuskan untuk mengantar saya ke klinik Asa Medika, klinik langganan, di Serpong.  Dalam perjalanan, saya mulai merasakan sakit yang luar biasa dan hanya bisa beristighfar karena menjangkau klinik butuh waktu sekitar 30 menitan.

Rasa mulas atau kontraksi yang saya rasakan berlangsung setiap lima menit sekali selama kurang lebih 10 detik. Ketika merasakan kontraksi, sebaiknya ambil nafas panjang dan buang dari mulut.  Ini cukup membantu untuk meredakan rasa sakitnya secara perlahan.

Argh… kapan ini sampai di klinik?  Rasanya sudah tidak sabar!

 

Pondok Aren, 12 Juni 2016

Posted in Life Stories

Turkiye Burslari 2016: Bye … Bye

Around two months a go, I was little busy preparing the documents and writing essays for Turkiye Burslari 2016.  Turkiye becomes one of my nation’s destinations to pursue my master degree.  The opportunity to study there offered by Turkiye Government seems to be fresh water for me.  Without thinking many times, I should apply and dream to be there this coming year.

Today, it’s been two months since the application closed.  No email comes to my mailbox.  I think, I already know the decision that I am not selected to posses the interview section.  Well, I am little bit disappointed, especially knowing that many people around me has got the scholarship.  However, I try to be grateful for any good things that Allah has given to me.  I believe, it is just the beginning of my learning journey which will never stop until here.

Now, I am wishing to get a good news from Australian Awards Scholarships that my husband and I have applied a month a go.  I hope, both of us will experience the campus life in Australia together with my newbaby born that will come next month.

Bismillahirahmanirrahim.

Posted in Life Stories

Skill Building

Working at school as a teacher has given me an opportunity to grow my skill in pedagogy.  I am interested In this skill since it helps me a lot developing my competency.  Recently, I am thinking of discovering other skills out of teaching area.  The skills that I meant are those that I never experience before.  Let me list down:

  • Reseller                                                                                                                                                                                The mushrooming of online shop leads me to be a reseller who mainly sells Islamic outfit, such as gamis or hijab.  It is supported by the various number of famous brands which are still affordable for lower to middle social class.
  • Hijab Designer                                                                                                                                                                 Totally I am not good at designing any single thing.  However, after my visit to Pasar Cipadu which sells clothing materials, I was such amazed to start designing hijab.  What makes me interested is actually the simple hijab (square hijab).  I don’t need to design complicatedly, just decide the sizes, materials and colours.  Sounds promising!
  • Crafting                                                                                                                                                                               This morning, I found that my clothes are not proper anymore.  Many of them are too small and too colorful, but the condition is still good.  Actually, I was little bit sad to stop wearing them since they have beautiful patterns.  What can I do with those stuffs?  My sister suggested me to do a crafting with that used materials.  Then, I started how to make pencil case and baby shoes.  Well, till now, it is still in my mind.
  • Snack Seller                                                                                                                                                                       Honestly, I miss Jogja where I can get cheap and delicious snacks easily close to my parents’ workplace.  The snacks there are definitely different with the ones that I used to eat here in Tangerang.  Here, I can not find cassava chips with gadung flavor, fried meatball, salty peanuts, and many more. Even, it is hard to find them through online shop.  Well, my mind tells me that I better sell those snacks here to accommodate snack eaters.

Those are the crazy skills I should discover more.  The problem is I don’t know when and how to start them.   Maybe, I should focus on one skill first, then continue with the others.  So, which should I start first?